Thursday, April 22, 2010

Cinta Mati

Arwah itu meminta tolong pada seorang dukun. Belum ada cahaya terang atau malaikat atau kereta atau apa pun itu yang datang untuk membawanya pergi. Dia pasti masih punya urusan di dunia ini. Dukun itu menggeleng. Urusan dunia berakhir ketika orang itu mati. Jika dia masih ada di sini, ada orang di dunia ini yang masih belum berakhir dengannya.

Arwah itu teringat pada istrinya. Perempuan yang selalu setia menemaninya meskipun dia sering membuatnya menderita itu pasti sangat mencintainya hingga tidak merelakannya pergi. Mereka pun pergi mencari sang istri. Berharap bertemu perempuan yang lumpuh karena duka, mereka berjumpa dia, yang ternyata sudah bersuami lagi. Ternyata, tak lama setelah suaminya mati, perempuan itu sadar bahwa dia tidak bahagia sungguh. Parah lagi, dia tak yakin kalau benar itu cinta yang pernah dirasa. Maka ketika datang lelaki lain meminangnya, dia tak berpikir dua kali. Mungkin kali ini, dia akan bahagia.

Sang arwah dan si dukun bingung. Lalu siapa yang membuatnya masih tertambat di dunia? Rentenir tempat berhutang? Orang yang dibuatnya benci setengah mati? Mantan pacar mungkin? tanya si dukun asal bicara.

Arwah itu teringat. Bukan hutang, tapi mungkin benci, dari perempuan yang ditinggalnya pergi untuk menikahi sang istri. Arwah itu ingat betul, perempuan itu dulu melintir jatuh sakit dan tak mau memandang wajahnya lagi. Waktu itu, dia tidak yakin kalau kepergiannyalah yang membuat si perempuan hancur berantakan. Tapi kini tak salah lagi. Pasti dia. Siapa lagi? Si Arwah yakin betul dia hidup lurus dan baik. Kalau ada 'dosa' yang mungkin dibuatnya, pasti dengan perempuan itu. Wajar kalau dengki meliputi hatinya, pikir sang arwah.

Lalu, pergilah mereka mencari perempuan yang mungkin pembenci itu untuk memberi tahu bahwa mantan kekasihnya sudah mati agar menyudahi segala dengki.

Sekali lagi, sang arwah dan si dukun kembali bingung. Perempuan itu sudah tahu bahwa mantan kekasihnya sudah mati. Tidak ada dengki. Tidak ada benci. Namun, cahaya terang, malaikat, kereta, atau apa pun itu masih belum kunjung datang. Sang dukun pun berputar akal.

Lalu si dukun curiga. Dia pun bertanya sebuah pertanyaan yang tak biasa. Masalahnya cuma satu ternyata. Yang menjangkarkan si arwah ke dunia, bukan benci atau dendam, tapi cinta.

Sang arwah hanya bisa terdiam mendengarnya. Si dukun mengangguk-angguk. Mungkin sudah nasib si arwah menghantui dunia sampai si mantan pacarnya juga tiada. Karena ternyata cinta sang mantan sudah pernah dijanjikan sampai mati kepada kekasihnya.