Sil
Aku termangu, Sil. Rasanya hidupku berkurang sejak kau hadir. Kau memang membawa banyak tawa dalam lagakku. Dekapmu membuatku hariku tak lagi sepi. Kata-kataku tak lagi kering dalam keheningan. Tapi hidupku tetap berkurang sejak kau hadir. Sepertinya saat itu, duniaku yang luas, melingkar, mengecil, berputar dan berpusat hanya padamu. Jendela-jendela dan pintu yang biasanya terbuka lebar untukku, seperti tertutup satu per satu. Aku kini hanya satu, Sil. Hanya seorang, di tengah
Aku tahu, Sil. Ini bukan salahmu. Mungkin ini salahku. Yang tidak melihat siapa engkau, siapa aku. Yang tidak menghiraukan apa dirimu, dan apa diriku. Yang berlaku semauku, menemanimu melalui sepimu. Meskipun mungkin yang sebenarnya lebih memerlukan kawan adalah aku. Jadi mungkin layak aku bersisian dengan tak ada hari ini.
Aku tidak mengerti, Sil. Apa yang membuat sebuah pilihan menjadi benar? Mengapa menemanimu menjadi salah? Sejak kapan ketulusan bisa dihargai dengan benar atau salah. Setahuku, ketulusan itu benda yang berharga, Sil. Beruntung bisa mendapatnya. Dan aku akan memberikannya kepada siapa pun manakala aku punya. Gratis.
Aku lelah, Sil. Mungkin terdengar manja di telingamu. Pun mungkin sudah kesekian kalinya, meskipun dari orang yang berbeda. Tapi begitulah adanya. Kelelahan ini membuatku berbeda. Tidak ada rasio, tidak ada logika. Hanya himpunan benang kusut yang bergelung dari ujung kepala hingga ujung hatiku. Dan ketika nanti aku sempat, aku akan mengatakannya.
Bukan karena aku tidak sayang padamu, Sil. Tapi aku tidak bisa menjadi aku yang terbaik untukmu dalam kelelahan ini. Hanya sebuah karung yang mengikatkan dirinya pada sesuatu yang membuatnya ada. Salahkan saja aku, jika kau ingin menyalahkan sesuatu. Karena aku tidak mampu menjaga ketulusanku, dan karena aku merasa sepi di tengah kerumunan ini.

<< Home