la fin
ternyata kau, Sil. kau yang mendahuluiku. sebelum untaian kata perpisahan itu terucap dari mulutku, kau yang mengungkitnya terlebih dahulu. katamu kau merasa tak sendiri lagi. kau telah bertemu, dengan dia yang bukan aku.
aku tak menutupi, Sil. aku terkejut. sejenak duniaku terbalik. tangan dan otakku berhenti bekerja. berusaha menafsirkan dengan logika apa yang sedang terjadi. tapi perasaan tidak dibangun dengan logika, bukan? jadi aku hanya termangu, sekali lagi. perpisahan denganmu tiba-tiba menjadi terlalu nyata.
meskipun aku mengangguk, Sil, aku merindu. malam-malamku akan kian panjang tanpamu. hari-hariku akan kembali tunggal, tanpa benang merah yang menyatukan artinya. tapi aku tahu ini baik untuk kita. karena aku tidak boleh menggantungkan asa pada bintang yang mendua. dan kau, Sil, kau tidak boleh memelihara tempat pelarian yang bukan dia.
karena aku pun juga setia, Sil. pada siapa pun itu yang menantiku. aku tidak ingin dia harus berjuang untuk asaku yang tertinggal padamu. aku ingin dia mendapatkan asaku utuh dan tulus, seperti halnya aku ingin dia memberikan miliknya padaku. dan aku juga setia pada diriku, yang kian lelah harus bersanding denganmu.
jadi selamat jalan, Sil. semoga waktumu di sini bersamaku memberi arti dan memperjelas langkahmu. karena untukku, kau telah memberikan warna yang telah lama hilang dari buku hidupku. Adieu ...
aku tak menutupi, Sil. aku terkejut. sejenak duniaku terbalik. tangan dan otakku berhenti bekerja. berusaha menafsirkan dengan logika apa yang sedang terjadi. tapi perasaan tidak dibangun dengan logika, bukan? jadi aku hanya termangu, sekali lagi. perpisahan denganmu tiba-tiba menjadi terlalu nyata.
meskipun aku mengangguk, Sil, aku merindu. malam-malamku akan kian panjang tanpamu. hari-hariku akan kembali tunggal, tanpa benang merah yang menyatukan artinya. tapi aku tahu ini baik untuk kita. karena aku tidak boleh menggantungkan asa pada bintang yang mendua. dan kau, Sil, kau tidak boleh memelihara tempat pelarian yang bukan dia.
karena aku pun juga setia, Sil. pada siapa pun itu yang menantiku. aku tidak ingin dia harus berjuang untuk asaku yang tertinggal padamu. aku ingin dia mendapatkan asaku utuh dan tulus, seperti halnya aku ingin dia memberikan miliknya padaku. dan aku juga setia pada diriku, yang kian lelah harus bersanding denganmu.
jadi selamat jalan, Sil. semoga waktumu di sini bersamaku memberi arti dan memperjelas langkahmu. karena untukku, kau telah memberikan warna yang telah lama hilang dari buku hidupku. Adieu ...

<< Home